Dilema Anak Muda Purworejo yang Kehabisan Alasan untuk Bertahan di Kota Sendiri

 


Sejak zaman orang berteriak “Merdeka!” sampai sekarang eranya kicau mania, Pulau Jawa selalu menjadi destinasi nomor wahid bagi para perantau. Kata orang, peluang sukses di sini lebih besar. Mau belajar? Dari ujung barat sampai timur tinggal pilih. Mau kerja? Gedung-gedung di ibu kota atau kawasan industri pantai utara sudah menanti.

Memang, Pulau Jawa selangkah lebih maju dibanding banyak daerah lain. Tapi tidak semua kotanya ikut melaju dengan kecepatan yang sama. Purworejo salah satunya. Kabupaten yang tidak kecil-kecil amat di Jawa Tengah ini, sampai tulisan ini dibuat, seolah masih mencari jati dirinya sendiri.

Mau disebut kota pelajar seperti Jogja? Jumlah kampus di sini mungkin tak lebih banyak dari jumlah jari di tangan.

Kota industri? Kalau iya, tentu lulusan SMA tidak perlu berbondong-bondong hijrah ke Cikarang dan pulang saat Lebaran sambil memutar lagu Tewas Tertimbun Masa Lalu.

Mungkin identitas yang paling melekat dari kabupaten ini adalah kota pensiun. Faktanya, banyak anak muda Purworejo setelah lulus sekolah langsung mengadu nasib di kota orang: bekerja di sana, membayar pajak untuk kota lain, bahkan menikah dan membangun keluarga di sana, lalu pulang ke kampung halaman saat usia sudah kepala lima.

Berangkat dari keresahan itu, saya mencoba menulis ini. Siapa tahu bisa menjadi sedikit kontribusi dari warga lokal untuk kota tempatnya dibesarkan.

Sedikit Info tentang Kabupaten Purworejo

Sebelum bicara lebih jauh, mari berkenalan sekilas dengan Kabupaten Purworejo. Karena jujur, selama saya kuliah di Semarang, banyak sekali teman yang tidak tahu Purworejo itu di mana. Sebagian bahkan baru pertama kali mendengarnya.

Kabupaten Purworejo terletak di Provinsi Jawa Tengah, berbatasan langsung dengan Daerah Istimewa Yogyakarta di timur, Kabupaten Kebumen di barat, Kabupaten Wonosobo dan Magelang di utara, serta pantai selatan... di selatan.

Dulu, kabupaten ini pernah menjadi ibu kota sementara Provinsi Jawa Tengah saat Agresi Militer Belanda II sekitar tahun 1948–1949, tepatnya di Kecamatan Bruno, ketika Semarang sedang tidak aman.

Udah segitu aja. Namanya juga kenalan sekilas. Kalau memang cocok bisa datang ke rumah.

        Peta Kabupaten Purworejo (Sumber : https://peta-kota.blogspot.com/2011/08/peta-kabupaten-purworejo.html)

Suara dari Para Perantau

Tulisan ini saya rangkum dari pengalaman pribadi, cerita teman-teman Purworejo yang merantau, sampai obrolan dengan orang-orang Purworejo yang tak sengaja saya temui di jalan, tempat wisata, atau halte bus.

Banyak yang memilih meninggalkan Kota Pejuang demi pendidikan dengan pilihan lebih luas. Bukan karena kampus-kampus di sini jelek, tetapi memang tidak semua jurusan tersedia.

Kalau kalian kuliah di Jogja, Semarang, atau Malang, jurusan seperti Teknologi Pangan, Teknik Geodesi, Kedokteran, atau Hubungan Internasional mudah ditemukan. Di Purworejo? Sampai tulisan ini dibuat, semuanya masih 404 not found.

Selain soal jurusan, banyak juga yang ingin masuk perguruan tinggi negeri, sementara Purworejo belum memilikinya.

Kabupaten ini tidak kekurangan anak pintar. Yang kurang adalah wadah agar anak-anak pintar itu bisa tetap tinggal, berkembang, dan membangun kotanya sendiri.

Memangnya apa yang bisa dilakukan anak umur 20-an?

Ya jelas jangan berharap mereka langsung mendirikan pabrik atau membuka ribuan lapangan kerja. Tapi dampak sosialnya bisa besar. Mahasiswa melalui BEM, himpunan, atau komunitas biasanya punya program pengabdian masyarakat: pelatihan, sosialisasi, hingga aksi nyata bersama warga maupun instansi setempat.

Saya tidak mendiskreditkan orang yang memilih merantau. Itu hak mereka, bahkan bagus untuk keluar dari zona nyaman. Tetapi jika pendidikan di Purworejo mendapat perhatian lebih serius, saya yakin banyak anak mudanya akan memilih tinggal dibanding harus pergi ke kota lain.

Setidaknya mereka tidak perlu pusing hidup sendiri atau beradaptasi dengan lingkungan baru yang belum tentu cocok.

Saya pribadi menyambut baik rencana pembangunan Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) oleh Universitas Negeri Yogyakarta bersama Pemerintah Kabupaten Purworejo di 2026 ini. Walaupun biasanya pilihan jurusan di PSDKU tidak sebanyak kampus pusat, langkah ini tetap bisa menjadi terobosan penting untuk meningkatkan kualitas SDM lokal sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.

Penggerak ekonomi? Yes!

Biasanya pembangunan kampus akan diikuti maraknya kos-kosan, tempat fotokopi, warung makan murah, sampai usaha-usaha kecil lain yang ikut hidup.

Bravo Bu Yuli, Bravo Mas Dion.

Untuk Purworejo yang Lebih Baik

Sekarang kita bicara soal pekerjaan.

Purworejo masih belum punya “ciri khas” yang benar-benar kuat sebagai penggerak ekonomi daerah. Pantura seperti Semarang, Cikarang, atau Tangerang dikenal sebagai kawasan industri. Jakarta jadi pusat pemerintahan dan perusahaan besar. Banyak kota lain di Jawa Tengah terkenal lewat pertanian atau peternakannya.

Belum lagi jika kita urai posisi pekerjaan yang ditawarkan. Di kota lain, kita bisa dengan mudah menemukan lowongan pekerjaan untuk analis kebijakan, engineer, legal officer, sampai program magang. Karena apa? yap! karena ada yang menyediakan. Mereka punya perusahaan. Mereka punya kawasan industri.

Sangat kontras dengan apa yang terjadi di Purworejo. Pengalaman saya mencari pekerjaan di sini, masih didominasi oleh sales,tenaga medis, dan pekerja pabrik (jangan bayangkan pabrik di sini sebanyak Karawang atau Sentul) yang jumlahnya juga tak banyak.

Sama seperti daerah lain di Jawa Tengah, sebenarnya Purworejo juga punya potensi besar di sektor pertanian dan peternakan. Kabupaten ini merupakan salah satu penghasil kelapa terbesar di Jawa Tengah.

Tapi entah kenapa potensinya seperti kurang mendapat perhatian.

Padahal kalau pertanian dan peternakan benar-benar diseriusi, bayangkan berapa banyak lapangan kerja yang bisa tercipta, berapa besar pemasukan warga, dan seberapa kuat ekonomi daerahnya.

Ironisnya, jurusan pertanian dan peternakan sendiri bahkan belum tersedia di kampus-kampus dalam kotanya.

Kalau pertanyaannya apakah sektor ini menyerap banyak tenaga kerja, jawabannya jelas iya. Pertanian menyumbang sekitar 30–40% lapangan kerja di Purworejo. Namun agar kualitas pekerjaannya meningkat—dari informal menjadi formal—Purworejo perlu menarik lebih banyak investasi di sektor pengolahan hasil komoditas agar yang dijual bukan cuma bahan mentah, tetapi barang jadi.

Sebagai warga Purworejo tulen, saran saya kepada pemerintah kabupaten sederhana: banyak-banyak belajar dari daerah yang sudah berhasil mengembangkan potensi serupa. Kalau perlu lakukan kunjungan langsung atau bangun kerja sama strategis. Saya mah ikhlas lillahi taala kalau duit pajak dipakai untuk hal begini.

Lihat saja Lembang yang sukses mengemas peternakan menjadi wisata, atau Boyolali dengan koperasi susunya. Purworejo sebenarnya punya peluang serupa lewat kambing etawa Kaligesing dan komoditas kelapa atau gula kristal.

Kuncinya ada pada pembangunan citra dan kemitraan strategis supaya petani lokal bisa naik kelas menjadi pelaku industri.

Contoh lain ada di Kabupaten Malang yang berhasil mengintegrasikan perkebunan apel dan sayur melalui agrowisata serta hilirisasi produk. Mereka juga memperkuat peternakan sapi perah lewat sinergi koperasi dan industri besar sehingga pasar peternak lebih terjamin.


Sumber : https://jatengprov.go.id/publik/hasilkan-sapi-premium-peternakan-sapi-di-purworejo-ini-bisa-jadi-percontohan/

Pada April 2026 Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama dengan Ketua MPR RI Ahmad Muzani serta Wakil Menteri Pertanian Sudaryono meninjau salah satu peternakan sapi di Kabupaten Purworejo yaitu Berkah Setia Farm. Peternakan tersebut dikelola secara modern dengan memanfaatkan teknologi. Model pengelolaannya antara lain kandang bersih dan modern, pusat penggemukan dan kualitas genetik, peternakan berkelanjutan, dan memanfaatkan pakan berbasis limbah pertanian lokal.

Kalau pemerintah daerah serius mendorong Purworejo menjadi penghasil barang jadi, dampaknya akan terasa untuk generasi berikutnya. Ketika industri di kota sendiri bergerak progresif dan menjanjikan, anak-anak muda tidak akan terlalu tergoda mencari penghidupan di tempat lain.

Kalau kalian pikir lapangan kerja yang terbuka dari peternakan dan perkebunan hanya sedikit, jelas salah. Kedua sektor ini nantinya bisa menyediakan lowongan untuk akuntan keuangan, orang yang ngurusin pajak, spesialis nutrisi dan kesehatan ternak, driver untuk operasionalnya, marketing bahkan content creator untuk promosi digital. Jadi tidak sebatas terbuka untuk lulusan peternakan dan pertanian saja.

Purworejo sebenarnya berada di posisi strategis. Secara geografis, kabupaten ini dekat dengan pusat pertumbuhan baru seperti Yogyakarta International Airport (YIA), sekaligus masih berada di pulau yang sama dengan pasar besar seperti Jabodetabek dan Semarang.

Artinya distribusi hasil produksi bisa lebih mudah, lebih cepat, dan lebih murah.

Mengapa Bukan Perbanyak Pabrik?

Kalau ditanya kenapa Purworejo belum bisa berkembang menjadi kawasan industri besar seperti daerah-daerah Pantura, jawabannya memang tidak sesederhana “kurang investasi” atau “pemerintahnya lambat”. Faktor alam Purworejo sendiri juga cukup berpengaruh.

Wilayah Purworejo bagian utara didominasi perbukitan dan pegunungan, sementara sebagian wilayah selatannya berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Kondisi geografis seperti ini jelas berbeda dengan kawasan Pantura yang mayoritas datar dan lebih mudah dibangun kawasan industri berskala besar.

Belum lagi Purworejo juga berada di kawasan yang punya risiko gempa bumi dan tsunami karena dekat dengan jalur subduksi selatan Pulau Jawa. Bagi industri besar, faktor keamanan jangka panjang seperti ini pasti masuk pertimbangan.

Dari sisi konektivitas laut pun Purworejo tidak terlalu diuntungkan. Karakter ombak pantai selatan yang besar membuat pembangunan pelabuhan dagang besar jauh lebih sulit dibanding wilayah utara Jawa yang lautnya lebih tenang. Akibatnya, sejak dulu pusat perdagangan dan industri lebih banyak tumbuh di kawasan Pantura, sementara daerah seperti Purworejo berkembang lebih lambat.

Karena kondisi alam itulah saya merasa Purworejo lebih realistis jika fokus mengembangkan sektor yang memang paling cocok dengan karakter wilayahnya sendiri, seperti pertanian, perkebunan, dan peternakan. Potensinya jelas ada, tinggal bagaimana keseriusan untuk mengelolanya agar tidak terus kalah dengan kota-kota lain.


Komentar