Sebuah Seni Bertahan Hidup dari Pesantren : Karena Mondok tak Selalu Soal Ngaji

Banyak orang masih memandang pesantren hanya sebagai tempat memperdalam ilmu agama atau wadah bagi anak untuk berbakti kepada kiai. Bahkan sekarang pesantren banyak mendapat stigma negatif mulai dari feodalisme, mengkultuskan tokoh agama, dan melempar-lempar makanan layaknya memberi makan hewan ternak. Namun, ada satu hal yang jarang mendapat sorotan: bagaimana santri ditempa untuk beradaptasi dengan cepat di lingkungan baru. Inilah pengalaman pribadi saya yang membuktikan bahwa pesantren adalah sekolah bertahan hidup yang sesungguhnya.

Semua bermula pada 2016, saat saya kelas 6 SD. Kala itu, nilai ujian nasional saya jauh di bawah standar minimal untuk masuk SMP negeri favorit di kabupaten. Istilahnya; dibilang bagus tidak, dibilang jelek…banget. Akhirnya, orang tua memutuskan memasukkan saya ke pondok. Alasan Ibu sederhana: beliau takut saya terjerumus pergaulan yang salah jika bersekolah di SMP negeri maupun swasta non pesantren yang tersisa.

Definisi Sempurna dari "Bisa karena Terbiasa"

Sejak hari pertama, saya merasa tidak cocok dengan lingkungan maupun makanannya. Bayangkan, lantai kamar mandi yang biasanya beralaskan keramik di rumah, di sini sebagian masih berupa tanah atau semen kasar. Urusan perut pun menantang. Pesantren kami menggunakan sistem dapur bersama yang dikelola oleh petugas yang kami panggil "Bu Dapur".

Terkadang, sayurnya nampak layu. Tempe dijatah hanya satu biji per anak. Telur dadarnya pun dipotong-potong hingga lebih tipis dari triplek, meski syukurnya masih sedikit lebih tebal dari tisu. Jika kalian pernah mendengar kisah masa kecil tokoh besar yang hidup serba kekurangan, itulah yang saya rasakan. Sialnya lagi, saat itu saya adalah seorang picky eater. Sayuran? Tak satupun masuk dalam daftar menu saya. Lauk pun tak semuanya saya suka.

Kondisi diperparah ketika di bulan pertama, septic tank tepat di depan kelas kami jebol. Saya yang dalam situasi normal saja sudah ogah-ogahan makan, jadi semakin malas melangkahkan kaki ke dapur.

Awalnya, saya kukuh dengan idealisme: jika tidak suka menunya, lebih baik tidak makan. Akibatnya, di tahun pertama berat badan saya merosot tajam. Seragam sekolah yang sengaja dijahit kedodoran agar muat sampai lulus, malah harus dikecilkan. Selama setahun itu, saya bertahan hidup dengan stok abon dan sosis di lemari pribadi sebagai cadangan saat menu dapur tak tertelan.

Memasuki tahun kedua, prinsip saya mulai runtuh oleh realita. Pikiran saya yang semula idealis berubah menjadi lebih pragmatis: “Kalau aku nggak makan, aku bisa mati.”

Perlahan, saya mulai melahap apa saja yang tersedia. Mulai dari sayur kacang yang kuahnya dikacangin, sampai sayur lodeh yang rasanya bikin kita ingin bilang, “Yang makan lo aja deh!” Saya belajar beradaptasi dengan rasa dan keadaan. Hingga akhirnya, saya lulus dalam keadaan tidak pilih-pilih makanan lagi. Entahlah, mungkin dari segi rasa masih sama seperti saat saya masuk, tapi lidah memang sudah beradaptasi.

Survival skill penting yang saya bawa hingga kini adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu akan hidup di belahan bumi mana kelak. Suka tidak suka, kita harus mampu menyesuaikan diri dengan apa yang tersaji di depan mata.

"Lo Baru Nyebur, Gue Udah Kering"

Bukan cuma soal makanan, kehidupan “you have no choice” di pesantren memaksa saya mengalami homesick di usia 12 tahun. Jelas tidak mudah. Anak sekecil itu harus bangun sebelum subuh, dan yang dilihat pertama kali bukanlah wajah orang tua, melainkan muka mengantuk teman sekamar.

Banyak hal harus diselesaikan sendiri. Waktu itu, bisa menahan tangis agar tidak pecah di kamar mandi saja sudah merupakan prestasi besar. Namun, semua "penderitaan" itu baru terasa manfaatnya bertahun-tahun kemudian saat saya merantau untuk kuliah.

Hari pertama di kos, saya mendengar suara laki-laki menangis sesenggukan sambil menelepon orang tuanya karena rindu rumah. Di hari lain, ada kawan yang mengeluh bingung cara mencuci baju tanpa mesin cuci.

Di situlah saya membatin, “Lo baru nyebur, gue udah kering.”

Semua kegamangan yang baru mereka rasakan di usia mendekati 20 tahun, sudah habis saya lahap saat baru lulus SD. Pendidikan berbasis asrama memang menuntut kemandirian mutlak. Bagi anak-anak, mungkin ini terasa seperti hukuman atau bentuk ketidakpedulian orang tua. Namun percayalah, dampaknya adalah hadiah bagi masa depan—saat kita benar-benar jauh dari rumah dan harus menahkodai hidup sendiri setiap harinya.


Komentar